Pelajaran Berterima Kasih dari Dato Lawrence

Seminggu lalu ketika beres-beres rumah menyambut kunjungan Ibu dan keluarga besar dari kampung, saya menemukan secarik kartu beramplop putih. Berisi tanda tangan, bertanggal tahun 2009 dengan tulisan besar: ‘Thank you‘.

Saya ingat, adalah kartu ucapan terima kasih untuk saya dari seorang yang bukan orang sembarangan, yang telah memberikan pelajaran berharga bagi saya, yaitu kebiasaan berterima kasih.

Orang tersebut adalah Dato’ Lawrence Chan, salah seorang pembicara personal development kondang asal Malaysia. Beliau adalah pemilik PDL, pelatih motivasi tim Olimpiade dan para atlit kejuaraan dunia Malaysia selama lebih dari 37 tahun.

Ketika saya masih bekerja, Dato’ Lawrence menjadi pembicara pelatihan bagi Tenaga Pemasaran di perusahaan kami. Saya ditugaskan kantor untuk mendampingi dan mengurus keperluan beliau selama di Indonesia.

Dato’ adalah orang besar sehingga kerajaan Malaysia memberikan gelar ‘Datuk‘ atas jasa-jasanya, namun merupakan sosok yang selalu BERTERIMA KASIH atas kebaikan orang lain, sekecil apapun.

Ucapan terima kasihnya yang pertama adalah ketika saya membawakan tas kopernya saat menjemputnya di Bandara. Kemudian ucapan terima kasih selalu mengalir, saat dibelikan kartu GSM Indonesia, saat membantu menerjemahkan sebuah kata, memotretkan kameranya, memintakan kunci kamar hotel, menuangkan air minumnya, menuliskan catatan, mengirimkan emailnya, sampai hal kecil lainnya.

Beliau selalu mengucapkan terima kasih tidak sepintas lalu, memberikan jeda saat berbicara, dengan memandang saya, tersenyum, mengangguk bahkan kadang sambil menepuk pundak saya.

Termasuk ketika saya menunjukan lokasi Istana Bogor ketika mobil kami melewatinya. Mungkin apabila kita, reaksinya hanya akan mengangguk dan mengatakan ‘oohh..‘.

🙂

Tidak hanya kepada saya, kepada siapa saja. Sopir, bell boy, housekeeper hotel, dan petugas sound system ballroom. Saya masih ingat ketika menanyakan nama makanan kepada pelayan sebuah restoran di Brastagi, Sumut. Setelah dijawab, Dato’ memegang tangan si pelayan dan mengucapkan terima kasih. Padahal yang bertanya saya loh!

Kebanyakan kita biasanya menyatukan kata terima kasih dan mengucapkannya diakhir pertemuan atau setelah selesai urusan. Tapi beliau tidak, mengucapkan terma kasih saat itu juga, dimanapun, kapanpun. Bahkan ketika beliau sedang berbicara dengan orang lain, menoleh dan mengucapkan terima kasih.

Agama, orang tua dan guru saya telah menuntun saya akan kebaikan selalu berterima kasih. Dan Dato’ Lawrance memperlihatkan kepada saya cara berterima kasih dengan baik.

Kami bertemu 3 minggu di 3 kota. Ketika beliau sudah kembali ke Malaysia, datang sepucuk kartu di meja kerja saya. Terdapat ucapan terima kasih dengan tulisan tangan beliau, di kartu yang saya temukan kembali beberapa hari lalu.

Dari beliau saya belajar menghargai bantuan orang lain. Sekecil apapun.

Sahabat Memberikan Yang Terbaik

Ini adalah posting pertama blog ini. Setelah sekira 2 bulan lalu membeli domain dan mengangkatnya ke hosting WordPress.com.

Sebagai seorang blogger dan wirausaha online, saya menulis dan memiliki banyak blog, tentu saja. Bahkan blog untuk urusan internet marketing ada kiranya 20-30 blog saya kelola per tahun.

Namun, justru blog pribadi, yang benar-benar saya tulis sebagai daily thought keseharian, diluar bisnis, justru tidak ada. Karena alasan itu, lalu akhirnya saya punya blog ini.

Kembali ke judul.

Kita semua tentu memiliki seorang sahabat. Sahabat waktu kecil, sahabat sekolah, sahabat kuliah, sahabat nongkrong, sahabat di tempat kerja, atau sahabat sekaligus relasi bisnis.

Sahabat tak beda dengan teman, namun sahabat lebih diartikan teman yang terdekat. Sahabat, ada juga yang berupa benda yang selalu bersinggungan dengan kita setiap hari. Yang kita takkan bisa tanpanya. Handphone atau Laptop bagi pekerja digital seperti saya, atau cangkul bagi petani, atau sepeda motor bagi tukang ojek.

Saya pencinta gadget. Selain senang ngoprek-ngopreknya, gadget juga mendukung pekerjaan.

Salah satu yang disukai adalah fitur kamera. Ketika menemukan momen menarik dalam keseharian, saya mengabadikan dengan memotretnya. Bisa untuk bahan tulisan atau bahan sharing di Social Media.

Sudah lama saya mengidam-idamkan sebuah gadget terbaru yang dapat menjadi teman terbaik saya. Fiturnya yang istimewa dan dijamin sangat membantu aktifitas. Terlebih, karena racun dari teman-teman untuk memiliki gadget ini.

Sebuah iPhone dari keluarga Apple. Gadget iPhone 4S, keluaran terbaru saat ini, akhirnya saya miliki. Ini merupakan pemberian terbaik untuk saya. Dengan semua kecanggihannya, gadget ini dipastikan akan juga menjadi sahabat terbaik.

Sahabat memberikan yang terbaik.

Gambar header diatas tulisan ini adalah diambil memakai iPhone 4S saya ini, pagi hari, dari lantai 2 rumah kami. Hasil tangkapan kameranya istimewa, sebagus suasana pagi itu.