Selamat, City. Kemenangan yang Pantas

Tulisan ini bukan mengungkit lagi keriaan di Etihad Stadium hari minggu kemarin. Namun ya karena saya baru sempat menulis saja.

😀

Iya ini adalah tulisan tentang kemenangan The Citizens, juara EPL! Trofi yang ditunggu-tunggu sejak 44 tahun lamanya. Dan kemenangan kali ini adalah sebuah kemenangan yang pantas untuk didapatkan.

Sebelum saya menyinggung tentang dukungan finansial yang tidak terbatas, permainan Vincent Kompany dan kawan-kawan musim ini memang menyajikan hiburan olahraga yang menguras emosi hati sekaligus menghibur.

Tampil cemerlang sejak awal klasemen, sempat terpuruk dan disalip tetangga kota hingga kemudian bisa menyamakan point meski hanya menang karena selisih gol.

Selisih point yang tipis dengan Manchester United selama kompetisi berlangsung memang membuat pendukung, termasuk saya berasa lelah. Hadeh, pendukung nan jauh disini saja merasa begitu apalagi skuad Citizens itu sendiri.

🙂

Minggu malam kemarin, adalah malam yang istimewa bagi penyuka sepakbola. Setidaknya ada 4 big match diantaranya EPL dan La Liga. Pengelola cafe yang biasa ngadain nonton bareng bisa bingung dengan pilihan match yang hampir bersamaan itu. Saya sendiri yang kebetulan berada di Own Cafe Sagan, bertemu client sekalian nonton laga menentukan ini.

Disana, mungkin karena pendukung MU lebih dominan, big screen yang diluar memilih pertandingan MU vs Sunderland, maka saya dengan terpaksa menonton Manchester City vs QPR via internet streaming.

Laga kemarin adalah laga menegangkan dan dramatis. Harapan saya, si penggembira ini sudah pupus ketika City tertinggal 1-2 saat babak dua sudah akan berakhir. Namun ternyata tidak bagi skuad asuhan Manchini, kerja keras dan pantang menyerah sampai detik terakhir mendatangkan hasil yang laksana keajaiban. 2 Gol di 5 menit injury time.

Kemenangan yang pantas.

Sebagaimana juga merupakan upah yang dapat membayar gelontoran dana lebih dari 300 juta poundsterling dari sang emir Seikh Mansour. Ada yang mencibir lantaran City jor-joran belanja para bintang nan mahal. Karena kekayaannya hingga dituduh melakukan segala cara.

Tapi justru karena itulah kemenangan ini menjadi pantas. Sepakbola masa kini adalah permainan yang tidak hanya melulu teknik di lapangan, namun juga strategi bisnis, manajemen pemain, infotainment, budget periklanan, yang pada akhirnya berujung sebagai industri bisnis hiburan yang besar.

Kapitalisme.

Sepakbola eropa memang menghibur. Bagi saya, selain juga mendatangkan uang, banyak nilai positif yang dapat diambil. Lalu buang negatifnya.

Selamat City.

Advertisements

Fanatisme Klub Sepak Bola di Dunia Maya

Sikap fanatisme yang berlebihan terhadap klub-klub atau kesebelasan sepak bola, sedari dulu terjadi dalam realita sehari-hari.

Terkadang sikap tersebut kerap kali menimbulkan persinggungan hingga permusuhan yang kadang kala kalau dinalar sungguh konyol dan tak ada untungnya. Mati akibat tawuran selepas nonton sepak bola? Well, sorry to say, Bodoh.

Saya pernah melihat seseorang memakai kaos bertuliskan sumpah serapah terhadap komunitas fans sebuah klub lokal dengan bahasa kasar. Ya, saya setuju don’t judge the book from its cover, tapi sulit bagi saya untuk tidak menilai seseorang dari pakaian yang dia kenakan dengan kaos seperti ini.

Kini di dunia online, fanatisme berlebihan yang dipertontonkan dengan komentar-komentar dan ‘perilaku virtual’ tidak cerdas juga kerap kali ditemukan.

Coba anda masuk ke salah satu portal berita terbesar, dan baca sebuah berita hasil pertandingan sebuah klub sepak bola, entah itu klub lokal atau negara luar. Lalu baca komentar-komentar dibawahnya, anda akan menemukan sebagian besar isinya adalah sumpah serapah, olok-olok, perang kata-kata, dan argumen konyol yang dikeluarkan seperti layaknya seseorang mati-matian membela harga dirinya.

Seorang kawan bercerita, pernah dimaki-maki follower twitter-nya dan mengancam untuk unfollow karena nge-twit skor sebuah pertandingan bola. Mungkin klub kebanggannya kalah waktu itu.

Hadeh.

Saya senang menonton sepak bola, dan menyukai sebuah klub tertentu murni karena enak melihat cara bermain di lapangannya saja. Terkadang berkomentar di social media seperti Facebook dan Twitter bersama teman-teman lain tentang kekalahan atau kemenangan klub favorit saya, hanya sebatas berkelakar saja.

Pernah nemu status orang dengan komentar sangat panjang sekali, sahut-sahutan adu argumen hanya karena sebuah pertandingan bola.

Sekali lagi, hadehh.

PS: saat ini menjagokan Manchester City di Liga Inggris dan FC Barcelona di Liga Champion. Piss bagi pendukung tim lain heuheu.